Jumat, 08 Mei 2020

Our QIF Journal: Tantangan Seru Sekolah Dari Rumah

Hello, masa pandemi covid-19 tiba-tiba saja mengubah pola hidup kita. Kaget? pastinya. Meskipun banyak orang dengan karakter "selalu waspada", gelombang perubahan yang datang tiba-tiba tetap butuh waktu untuk diterima. Tak terkecuali saya. Sebagai seorang ibu bekerja, konsentrasi saya benar-benar terpecah antara  masalah ketahanan sistem imun keluarga, urusan pekerjaan dan tentu saja perubahan pola belajar anak-anak yang mendadak "dirumahkan" untuk jangka waktu yang belum ditentukan mengikuti kebijakan pemerintah sepanjang masa pandemi.

Bagi keluarga-keluarga yang selama ini memilih pendidikan formal di sekolah bagi anak-anaknya, diawal mula masa anak-anak bersekolah di rumah, kesulitan yang umum terjadi adalah penyesuaian ritme kegiatan anak-anak. Jika tadinya sebagian besar waktu belajar anak dilakukan di sekolah, sekarang seluruh aktivitas tersebut berpindah ke rumah. Terus terang bagi saya pribadi, momen sekolah di rumah ini menimbulkan dilema tersendiri. Saya mahfum sekali jika terdapat perbedaan pola belajar anak-anak di sekolah dengan cara belajar mereka di rumah. Ada juga kekhawatiran saya, jika mereka lama belajar di rumah maka ketertarikan mereka akan sekolah akan berkurang :D.

Pada tahun 2011-2012, sewaktu saya dan anak-anak berpindah tempat tinggal mengikuti suami yang menjalani tugas belajar di Australia, saya belajar menerapkan prinsip-prinsip belajar di rumah bagi anak-anak (homeschooling). Pendekatan yang saya coba terapkan saat itu lebih ke fun learning, lebih pada mendampingi anak-anak menemukan cara belajar yang nyaman bagi mereka  sementara materi yang dipelajari saya membebaskan, selama itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan ajara agama dan norma umum. Sejak itu anak-anak di rumah terbiasa belajar meski dengan cara yang berbeda-beda, antara kakak dan adik bisa saja menemukan cara nyamannya sendiri dalam belajar.

Ketika kami kembali ke Indonesia,anak-anak kembali belajar di sekolah formal. Perbedaan cara belajar yang dikenalkan oleh para guru di sekolah  sedikit banyak mempengaruhi cara belajar mereka. Yang semula fokus pada "kesenangan belajar" menjadi belajar dengan target penuntasan materi, baik itu menyenangkan bagi mereka atau tidak :). Untunglah pak suami masih sepakat dengan saya, bahwa soal belajar lebih layak dimulai dengan kenyamanan anak-anak bagaimana mereka menikmati rposes belajar tersebut, jika mereka menikmati prosesnya, ketuntasan materi menjadi bonusnya. Jadi, bagi kami, ketuntasan target materi pembelajaran bukan prioritas utama. Saya bersyukur, dengan cara belajar mereka yang khas, anak-anak tetap bisa mengikuti ritme belajar di sekolah, meski tidak selalu menjadi bagian dari barisan anak-anak juara kelas, yang pasti satu dua materi benar-benar mereka pelajari dengan sukarela. Selebihnya? memenuhi ketuntasan materi minimal sudah cukup buat saya :D.

Tujuan kami dalam mengirim anak-anak belajar di sekolah formal memang bukan semata untuk mengejar materi pembelajaran sesuai kurikulum yang ditetapkan melainkan lebih mengenalkan kepada anak-anak pada realitas kehidupan yang sebenarnya yang dihadirkan lewat keberagaman latar belakang, sikap, etos kerja orang-orang lain yang berada bersama mereka di sekolah. Kami berharap dengan mengirim anak-anak ke sekolah mereka bisa mempelajari berbagai macam karakter orang, bagaimana berkomunikasi yang efektif, dan belajar mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hubungan inter personal dengan orang lain di luar lingkungan keluarga. Bagaimanapun sekolah merupakan salah satu lingkungan yang bisa menjadi laboratorium kehidupan nyata yang kaya akan heteroginitas dan menjadi sumber pembelajaran yang diperlukan anak-anak menjelang kehidupan mereka yang sebenarnya.

Credit Photo : Koleksi Pribadi


Kembali ke masa kini, ditengah pandemi ini, anak-anak kembali belajar di rumah sepenuhnya. Reaksi mereka sedari awal di rumahkan benar-benar menyenangkan, seperti mendapat berkah kembali beroleh kemerdekaan belajar ala rumah. Dua kakak yang masing-masing duduk di kelas XII dan kelas VIII sudah punya gaya belajar sendiri, sehingga saya tak perlu banyak khawatir soal bagaimana mereka akan menyelesaikan tugas sekolah sembari mengeksplorasi materi pembelajaran mandiri sesuai minatnya. Meskipun demikian  saya  tetap mengingatkan mereka dari hari kehari bahwa meskipun mereka akan setiap hari belajar dirumah, sekolah tetap memberi materi ajar yang wajib dituntaskan dengan tenggat waktu tertentu. Hmm, tantangan ini sebenarnya bukan cuma untuk anak-anak, justru lebih jadi tantangan buat bundanya :D.

Salah satu tantangan terseru saya adalah dalam mendampingi si bungsu yang sekarang duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Pada pekan pertama masa belajar di rumah, baik para guru maupun siswa dan juga orang tua. Setiap pagi, guru wali kelas akan membagi materi pelajaran yang wajib dituntaskan pada hari itu. Khusus untuk materi Tematik yang berisi muatan Bahasa Indonesia, Matematika, PPKn dan SBdP (Seni Budaya dan Prakarya) wajib diselesaikan sebelum pukul 10.00 pagi dan dilaporkan pada wali kelas.Sementara tugas dari bapak/ibu guru lainnya yang berbeda bidang studi seperti muatan agama Islam (diniyah), bahasa alternatif (Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Sunda) serta pelajaran olah raga juga turutmenyjmbangkan tugas-tugasnya. Total ada 6 mata pelajaran berbeda dengan muatan tugas dengan target penyelesaian mingguan.

Pekan pertama layaknya masa orientasi siswa baru. Anak-anak yang masih terkaget-kaget karena perubahan pola belajar, berhadapan dengan kewajiban penyelesaian target belajar yang ketat. Si bungsu kelihatan kurang bersemangat menyelesaikan tugasnya, setiap pagi yang ada dipikirannya campur aduk antara hafalan cara mencuci tangan 20 detik seperti yang ramai diiklankan di televisi, kecemasan soal virus yang tak kasat mata yang terlihat dimatanya setiap kali mendengar berita atau obrolan keluarga, rasa kangen pada teman-teman sekelasnya dan tugas dari bu guru :).

Perjuangan saya dan si bungsu setiap pagi dimulai dari pembiasaan akan suasana belajar yang baru dan bersama-sama menyimak materi pelajaran dari sekolah yang harus dipelajari di rumah dan sedapat mungkin tidak melenceng jauh dari target waktu penyelesaian harian. Hasilnya? waw, di pekan awal, hampir selalu si bungsu terlambat menyetorkan tugasnya pada bu guru :D. 

Saya kerap mengingatkan diri sendiri untuk tidak terbawa suasana kejar target. Saya meyakini bahwa belajar adalah hak anak-anak, dan dalam memperoleh hak tersebut mereka juga berhak menikmati proses yang menyenangkan dan bukan penuh tekanan. Saya sendiri tak berani menambah tekanan pada anak-anak yang saya tahu juga mendadak merasakan stress meski tak selalu dapat mereka ungkapkan. Namun demikian, saya juga berusaha tak menyerah menjalankan tugas penuh pendampingan belajar pada anak-anak. Bagaimanapun  karena kami telah memilih jalur sekolah formil sebagai tempat anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu belajarnya, maka dalam konsep memenuhi hak belajar anak-anak berarti juga memenuhi target pembelajaran sekolahnya. 

Selama ini, sebagian tugas saya sebagai pendidik anak-anak telah saya alihkan ke institusi bernama "sekolah" dan sekarang giliran saya kembali menikmati penuh tugas mendidik anak-anak di rumah. Masih bersyukur saya, karena sekolah tetap berbagi beragam materi yang dapat ditawarkan pada anak-anak untuk dipelajari. Paling tidak, proses penyusunan kurikulum belajar tidak harus sepenuhnya saya lakukan sendiri seperti masa-masa homeschooling dulu. Yang saya bisa lakukan sementara adalah memadukan kebijaksanaan belajar di rumah dengan pola belajar sekolah. kenyataannya, sungguh tak mudah hingga si bungsu mampu mengambil peran belajar mandiri sesuai jadwal pelajaran dari sekolah. Jargon penyemangat "pantang menyerah" tampaknya jadi kata-kata ajaib yang wajib di suarakan bagi ibu-ibu se-Indonesia yang sedang beralih tugas menjadi "bu guru" di rumah :). Bagaimanapun tugas mendidik anak-anak adalah hak prerogatif orang tua. Peran kita mutlak didalamnya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar