Rabu, 09 Mei 2012

Homeschooling Baby Aliy

Melahirkan dan mengasuh bayi lagi setelah usia saya hampir mendekati empat puluh tahun ternyata butuh energi dan semangat  ekstra, berbeda dengan saat saya mengasuh kedua anak perempuan saya yang saya lahirkan ketika usia saya jauh lebih muda :p. Menghadapi tantangan mengurus seorang bayi dan dua anak lainnya saat ini benar-benar membuat saya membutuhkan banyak ilmu baru, selain karena jarak antar kelahiran bayi saya yang terbilang agak jauh dengan kakak-kakak nya, yang membuat saya kembali seperti ibu "baru" lagi yang terkadang lupa bagaimana seharusnya mengurus dan menghadapi bayi kecil, saya juga masih harus berkonsentrasi pada pengasuhan kedua kakak yang saat ini telah memasuki usia sekolah dan sedang semangat-semangatnya bereksplorasi tentang banyak hal yang mereka minati.

 Sejak bayi masih didalam kandungan, sejatinya ia adalah pembelajar, saya teringat saat baby Aliy, bungsu saya ini masih di dalam kandungan, bagaimana ia akan bergerak memutar setiap kali saya mengusap-usap perut saat saya beristirahat sambil bertadarus, membacakannya ayat-ayat Al-Quran. Saat bacaan dimulai, ia yang sebelumnya sangat aktif bergerak (rasanya bagaikan selalu menendang-nendangkan kakinya) tiba-tiba menjadi tenang dan hanya bergerak memutar dengan perlahan-lahan. Begitu setiap kali kegiatan yang sama saya lakukan. Saya makin yakin saja, bahwa janin pun telah bisa belajar sesuatu, minimal mengenai pola aktivitas yang dilakukannya bersama ibunya.

Saat baby Aliy akhirnya lahir, ia secara natural tentu belajar, mulai belajar bernafas, menyusu pada bundanya, belajar beradaptasi pada cahaya, menggerak-gerakkan anggota tubuhnya, belajar miring, tengkurap, menegakkan kepala, duduk, tersenyum, tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu bahkan belajar menggerakkan kaki dan tangan saat kami ajak ia berenang.

Kehadirannya membuat saya memiliki ide untuk menjadikannya model pembelajaran bagi kedua kakaknya. Setiap perkembangan adik bayi mereka amati dan catat dengan penuh minat. Saat saya memandikan dan menggantikan popok sang adik, tak jarang kedua kakak turut membantu. Kakak kedua yang sekarang hampir 6 tahun usianya terkagum-kagum saat memperhatikan adik bayinya yang memiliki "belalai" , begitu ia menyebut alat kelamin adiknya yang laki-laki ^^.  Dari kegiatan dan observasi sederhana ini mengalirlah cerita saya tentang perbedaan anatomi tubuh anak lelaki dan perempuan, termasuk fungsinya, tentu saja dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, tidak terasa mereka sedang belajar biologi ^^, hanya dengan memperhatikan adik bayi. Diskusi saya dan kedua kakak kemudian berkembang menjadi sex education pertama bagi mereka, saat saya menjelaskan mengapa anak lelaki dan perempuan tidak boleh memasuki toilet yang sama, atau saling memperlihatkan auratnya masing-masing dan sebagainya. Saat saya menyiapkan makanan untuk adik bayi misanya, para kakak seringkali membantu, mulai dari memilih bahan dan menyiapkan alat makan termasuk mensterilisasinya terlebih dulu. Dari kegiatan ini kakak mengenal banyak jenis sayur mayur dan buah-buahan, belajar cara memasak sederhana dan sehat serta belajar menyusun menu sehat bagi mereka. Mereka secara tak sadar telah belajar tentang ilmu hayat lagi, plus dengan aksi membantu bunda sebetulnya mereka telah mempraktikan ilmu sosial :), sungguh menyenangkan menerapkan metode belajar seperti ini. Diakhir kegiatan, barulah biasanya saya membuat semacam kesimpulan yang berisi muatan pelajaran mereka yang diambil dari aktivitas bersama kami.

Dilain waktu, aktivitas kedua kakaklah yang saya jadikan tempat belajar bersama, termasuk saat belajar bagi bayi saya. Misalnya saat saya menemani kakak membaca buku setiap sore. Adik bayi akan saya ikutkan mendengar kedua kakaknya bergiliran membaca dengan suara keras. Saya meminta kakak membaca dengan intonasi dan ekspresi wajah sesuai materi bacaan yang dibacanya, dan ia harus menunjukkannya pada adik bayi, jadi aktivitas membaca kakak sekalian saya gunakan untuk melatih respon bayi saya terhadap orang-orang di sekitarnya. Demikian pula saat mengaji, kakaknya yang kedua masih belajar menggunakan buku Iqro, saat menunggu giliran membaca (biasanya sulung saya yang telah membaca Al-Quran akan membaca terlebih dahulu), ia akan menunjukkan huruf-huruf hijaiyah dari Iqro jilid I sambil dibunyikannya di depan adik bayi, biasanya adik bayinya akan memperhatikan dan saat ia mulai bisa bersuara ia akan ikut-ikutan mengeluarkan suara saat kakaknya selesai membunyikan satu huruf. Adik bayi tidak sedang belajar membaca lho, tapi dari kegiatan ini adik bayi telah berlatih mengeluarkan suaranya.
 saat mendengarkan kakak berdiskusi, adik bayi boleh "latihan" merobek kertas ^^

Semua pelajaran yang ingin dibahas oleh para kakak bersama dengan saya, dilakukan dengan model diskusi. Sebelumnya saya minta mereka, yang saat ini tentunya sudah lancar menulis, membaca dan berinteraksi dengan komputer, mengumpulkan bahan-bahan diskusinya, semisal membuat resume bahan bacaannya dari buku, hasil googling atau kalau terkait dengan olah angka alias matematika, saya minta mereka mengerjakan terlebih dulu latihan soal-soal atau membaca tentang suatu konsep matematika dan menyisakan "hanya" soal yang sulit atau konsep yang sulit dipahami untuk didiskusikan.  Sementara kakak sibuk berdiskusi, adik bayi biasanya kita biarkan "belajar" yang lain, misalnya belajar menjumput benda-benda atau merobek-robek kertas :).

Aksi sambil menyelam minum air seperti ini makin sering saya lakukan sekarang, terutama dalam kegiatan belajar anak-anak. Setiap kegiatan saya rancang untuk digunakan tiga anak sekaligus. Terbukti aktivitas seperti ini bisa menghemat energi dan waktu saya, maklumlah saya memang butuh menghemat energi karena banyak hal lain yang mesti saya lakukan sendiri (ah nikmatnya hidup tanpa asisten rumah tangga ..:D).


Saat ini usia bayi saya sudah memasuki 8 bulan, ia sudah bisa duduk tegak, dan mulai berlatih merangkak. Jari-jari kecilnya sudah mulai dapat menjumput benda-benda kecil yang menjadi mainannya serta bisa menirukan gerakan-gerakan sederhana yang saya atau anggota keluarga lain perlihatkan kepadanya, misanya melambaikan tangan, bertepuk tangan atau memukulkan sendok plastik pada mangkuk plastik ^^. 
Diberi kesempatan lagi menjaga amanah oleh Nya ternyata bisa membuat saya lebih bersyukur karena berkesempatan belajar lebih banyak soal manajemen waktu dan keluarga serta banyak hal lain dalam perjalanan saya yang masih sangat panjang untuk menjadi orang tua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar