Jumat, 23 Oktober 2015

Internet dan Remaja : Aturan Wajib Bagi Remaja Dalam Berinternet

Teknologi terus berkembang dari waktu ke waktu. Salah satu penemuan yang tak bisa disangkal lagi telah merubah cara manusia hidup di dunia adalah internet.



Tak cuma bagi para pengguna dewasa, keajaiban internet telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan anak-anak kita, mulai dari batita, balita, hingga remaja.


Untuk mereka yang termasuk golongan terakhir a.k.a para remaja, internet bahkan tampaknya menjadi item yang lebih penting dibandingkan kebutuhan dasar manusia ala Maslow yang membatasinya dalam kelompok pangan, sandang dan papan.

Tidak percaya???
Coba saja, saat anda ajak mereka ke restoran cepat saji, misalnya, yang menjadi perhatian mereka bukan hanya (atau bahkan "bukan pada") menu yang disajikan resto tersebut melainkan apakah jaringan wifi tersedia disana.
credit image : http://i1-news.softpedia-static.com/images/

Tak jarang si remaja uring-uringan dan mati gaya hanya karena sambungan internet di rumah terkena gangguan beberapa jam di saat mereka menghabiskan waktu di rumah. Gadget dan internet bagai dua sejoli yang kemana-mana menemani remaja kita menghabiskan waktunya mulai dari mengerjakan rumah, menyiapkan presentasi, ngobrol dengan sesama teman sekolah atau anggota komunitas favorit, hingga acara 'membunuh' waktu dengan sekadar menyaksikan video dari artis idola atau bermain game online.


Sebenarnya seperti apapun di dunia ini, teknologi berbasis internet juga mempunyai dua sisi, yang menguntungkan dan tentu saja merugikan.

Di satu sisi, internet  merupakan ladang informasi yang jika dipilah dengan filter yang tepat dan digunakan dengan bertanggung jawab maka akan menyediakan banyak hal positif yang memperluas khasanah pengetahuan bagi remaja dan mempermudah mereka dalam mengeksplorasi hal-hal baru dalam aktifitas belajarnya. 

Sebaliknya, jika remaja kita tak cukup punya bekal mengenai tata cara berinternet yang benar dan bertanggung jawab hal-hal negatif bisa saja menjadi konsumsi mereka baik  sengaja  ataupun tak sengaja.

Berikut beberapa aturan dasar yang wajib dipahami dan dipraktikan remaja kita dalam berinternet ria:

Waspada terhadap orang asing
Sama dengan aturan umum dalam dunia nyata, dalam dunia maya pun remaja kita perlu memahami bahwa berhubungan dengan orang yang asing bagi mereka memiliki risiko tinggi terhadap keselamatannya.

Sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mendiskusikannya dengan remaja kita akan bahayanya berhubungan dengan orang asing secara online  dan terus menerus mengingatkan remaja kita  untuk berhati-hati pada apa yang tampak di dunia maya. Banyak ketidakjujuran terpapar disana. Berdiskusilah dengan mereka mengenai hal ini, bahwa apa yang ditampilkan dan dikatakan orang asing di dunia maya bisa sangat jauh berbeda dengan kenyataannya di dunia nyata.

Jangan pernah berbagi informasi pribadi

Ingatkan remaja kita untuk berhati-hati selalu. Pencantuman alamat rumah, sekolah atau nomor telepon dan nomor kartu atm/kartu kredit di laman sosial media haram hukumnya. Termasuk diantaranya posting foto-foto pribadi apalagi dengan pose-pose yang bisa menarik atau memancing perhatian orang asing.

Jaga kerahasiaan password akun pribadi di dunia maya


Jelaskan pada remaja kita bahwa password didesain sebagai kunci pengaman informasi dalam akun pribadi. Jika tidak ingin informasi dalam akun tersebut tersebar luas keluar, maka jangan pernah emmbagi password tersebut pada orang lain (sahabat, teman atau bahkan teman dekat).


Ajak remaja kita berbagi aplikasi, tools atau situs yang sering ia kunjungi


Agak sulit mungkin, karena sebagai remaja mereka mulai mengerti batasan privasi. Namun, dengan komunikasi asertif, orang tua tetap dapat memperoleh akses tersebut sekadar untuk menjaga agar tidak terjadi kemungkinan remaja kita mengunjungi situs yang salah atau terlalu banyak menghabiskan waktunya di dunia maya.

Orang tua dapat menggunakan konsol pengaman berupa filter dalam bentuk software yang dapat mengamankan remaja kita saat berselancar di dunia maya. Konsol ini berguna untuk mencegah pihak yang tidak bertanggung jawab masuk dalam aktivitas remaja kita di dunia maya, misalnya saja para predator anak ataupun menyaring konten-konten dewasa yang kerap muncul layaknya iklan di laman situs.

Selain itu, sudah selayaknya remaja kita memperoleh contoh  cara aman berinternet dari orang tuanya. Dengan cara ini, kita sebagai orang tua membantu membentuk kebiasaan baik pada mereka, yaitu menjadi netter yang bertanggung jawab.




Sabtu, 07 Februari 2015

Saat Balita Kita Rajin Bicara : Kiat Menghadapi Anak Talkactive

Apakah ada diantara anda yang mempunyai anak talkactive? Beberapa cirinya mungkin bisa ditemukan dalam tulisan ini
Dari semua artikel yang saya baca tentang cara menghadapi dan memahami anak talkactive saya temukan satu kata yang penting untuk terus saya ingat, yaitu : SABAR. 

Intinya, menghadapi anak yang sangat aktif berbicara, jangan sampai orang tua menjadi tidak sabaran yang malah akan membuat kita kehilangan kesempatan membantunya mempelajari cara belajar dengan lebih baik. 

Hal penting lainnya yang perlu diingat bagi saya adalah bahwa anak  talkactive cenderung suka berusaha menarik perhatian orang-oang disekitarnya. Saat kita sedang melakukan suatu kesibukan, biasanya ia akan mendekati dan mulai menanyakan hal-hal yang diminatinya atau meminta kita melakukan sesuatu untuknya.

Dari sebuah artikel yang saya baca di http://www.healthguidance.org saya menemukan hal-hal menarik berikut yang layak saya praktikan dalam menghadapi si kecil yang talkactive.

  1. Dengan anak yang talkactive sangat penting bagi kita untuk tetap mendengarkannya dengan penuh perhatian dan memberinya komentar atau jawaban yang ia inginkan. Hanya dengan cara ini kita bisa tetap dapat membantu anak untuk belajar memahami apa yang benar dan salah.
  2. Jangan mudah menyerah saat mengajari anak talkactive tentang kapan ia harus diam dan kapan ia harus berbicara, sebab anak-anak yang sangat suka berbicara seringkali tidak dapat menahan dirinya untuk tidak berbicara barang sejenak.
  3. Jika kita memang ingin membantu anak talkactive untuk belajar tenang dan diam, kita dapat mengajaknya datang ke tempat-tempat dimana ia diharuskan untuk diam, misalnya ke tempat ibadah atau perpustakaan. Mulailah mengajaknya untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama misalnya satu jam, untuk memberinya pengalaman bahwa ada tempat-tempat yang memang mengharuskannya untuk tidak berbicara banyak.
  4. Latihlah anak untuk diam di tengah waktunya di rumah dengan menyediakan waktu "diam" untuk seluruh anggota keluarga. Kita bisa meminta seluruh orang di rumah untuk diam selama lima belas menit, misalnya, dan kemudian di waktu-waktu berikutnya, durasi itu bisa kita tambah sedikit demi sedikit untuk memberi kesempatan bagi anak talkactive belajar mengendalikan keinginannya untuk berbicara. Namun, jangan lupa untuk tetap merespon dengan cara positif, manakala si kecil tetap berbicara, ingatkan dia bahwa tujuannya belajar diam adalah untuk kebaikan bersama.
  5. Anak talkactive biasanya penuh dengan energi dan jika kita mengarahkannya dengan benar, maka kita bisa membantunya mempelajari hal-hal baru. Ajak sikecil untuk mengerjakan prakarya, beri ia tugas-tugas ringan yang dapat mengembangkan kesenangan atau hobi baru, misalnya memintanya membuat lukisan dengan tangan dengan media kertas dan cat air, atau bermain-main dengan air dan gelas-gelas plastik dan sebagainya.
  6. Bagi si talkactive yang masih berusia balita, biasanya ia sangat suka membuat ceritanya sendiri. Kebiasannya ini bisa diarahkan untuk mengajaknya belajar menikmati bacaan baru. Mengajaknya banyak membaca membuka kesempatan baginya untuk mendapatkan cerita-cerita baru untuk diulang dan positifnya lagi, kita telah membantunya menumbuhkan minat membaca sejak dini.
Apapun cara yang kita tempuh dalam berusha memahami dan membantu anak talkactive dalam mengembangkan dirinya, yang terpenting adalah kita menyadari bahwa anak, melalui kesukaannya berbicara sebenarnya menginginkan perhatian dari kita, sebagai orang tuanya. Tindakan pengabaian terhadap anak seperti ini bukan tidak mungkin bukan hanya menghentikannya dari kebiasaannya berbicara banyak namun juga menghentikannya dari membangun kedekatan dengan orang tuanya.

Jadi satu kata terpenting yang tetap harus dijaga adalah bersabar untuk memperoleh lebih banyak kebaikan bagi semua.



Saat Balita Kita Rajin Bicara: Apakah Si Kecil Termasuk Anak Talkactive?

Diantara tiga anak saya di rumah, si kecil yang saat ini berusia tiga tahun empat bulang terhitung yang paling "cerewet" dibanding kedua kakak perempuannya saat berusia sama dengannya. Padahal, menurut kebanyakan orang, anak laki-laki itu lebih sedikit bicara dibanding anak perempuan. Namun, rupanya teori umum itu tak berlaku bagi balita saya yang satu ini. Meskipun saat ia berusia lebih muda, yaitu di usia satu hingga dua tahun, ia bisa dibilang lambat dalam belajar berkata-kata.

Saat ini, mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi di malam hari, ada saja kata-kata yang keluar dari mulutnya. Jika tak bertanya ini dan itu, mengulang kata-kata kami yang baru didengarnya, menyanyikan lagu yang ia suka hingga menirukan percakapan dari film kartun kesukaannya. 

Bagi kedua kakaknya yang usianya berbeda jauh dengannya, kebiasaan si kecil yang talkactive kadang dianggap menggangu. Jadi, kadang sesekali saya mendengar juga ucap protes atau larangan dari sang kakak pada adiknya untuk berhenti bicara. "Berisik," begitu kata mereka. Tentu saja, protes dan larangan tersebut tak membuat sang adik berhenti berbicara, bahkan lebih sering saya melihat kedua kakaknya malah akan makin sering ia "ganggu", minimal untuk dijadikan tempat bertanya.

Sebagian dari orang tua yang seringkali bertukar pengalaman dengan saya ada yang mengatakan bahwa anak yang talkactive cenderung tumbuh menjadi anak yang cerdas. Namun ternyata, menurut The American Academy of Pediatrics, perkembangan bahasa bukan merupakan indikator utama kecerdasan seorang anak atau bahkan bukan pula merupakan indikator bahwa seorang anak memiliki kosa kata yang lebih banyak. Yang jelas, anak membutuhkan bahasa dengan tingkatan yang berbeda-beda dan bagaimana mereka memilih untuk menggunakan pengetahuannya sangat bervariasi.
diunduh dari : http://www.boldsky.com/img/2013/08/05-todd.jpg

 Bagi saya, dengan mengamati si kecil yang sangat aktif berbicara ini mengajarkan hal-hal baru, yaitu  bahwa si talkcative menunjukkan:
  1. Keingintahuan yang besar yang diekspresikannya saat bertanya ini dan itu;
  2. Cenderung mudah menunjukkan ekspresi entah itu rasa senang, kesedihan atau kemarahan;
  3. Lebih mudah belajar secara visual;
  4. Agak susah duduk diam dan mendengarkan karena lebih suka berbicara;
  5. Cenderung suka mencari perhatian orang disekitarnya;
  6. Lebih mudah bersosialisasi dan tidak takut-takut atau malu-malu saat harus tampil di depan umum.
Saya menyadari, tidak semua anak dapat diperlakukan sama, untuk itu saya berusaha mencari tahu cara menghadapi keseharian balita yang talkactive dan bagaimana memanfaatkan kondisinya itu untuk aktivitas belajarnya dan perkembangan dirinya di kemudian hari. 

Tulisan berikut merupakan ringkasan hasil penelusuran saya tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi anak talkctive.





Jumat, 11 Juli 2014

Ada Apa Dengan Kurikulum 2013? (Pendahuluan)

Masa liburan sekolah hampir berakhir. Anak-anak di rumah saya sudah tak sabar ingin segera kembali ke sekolah, salah satu tempat mereka belajar sehari-hari. Melihat antusiasme anak-anak kembali ke sekolah membuat saya turut bersemangat. Maklumlah, selama ini, sesuai dengan misi pendidikan dalam keluarga kami, sekolah menjadi salah satu lingkungan yang kami pilih sebagai  tempat anak-anak beraktivitas. 

Sejauh ini, aktivitas belajar mereka makin berwarna dan saling melengkapi antara pola belajar yang kami kembangkan di tengah keluarga dengan apa yang dilakukan oleh guru-guru mereka di sekolah. Singkatnya, kami sebagai orang tua bisa menjalin hubungan kerja sama yang solid dan saling mendukung sehingga terjadi keselarasan antara pola pengajaran orang tua di rumah dengan pola pengajaran guru sebagai partner kami di sekolah, Alhamdulillah.

Pada akhir tahun ajaran yang lalu, kami berkesempatan berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai kurikulum baru yang hendak diterapkan serentak secara nasional mulai tahun ajaran 2013/2014. Kurikulum tersebut disosialisasikan dengan nama "Kurikulum 2013". Dimulai dengan penerapan secara selektif pada sekolah-sekolah tertentu, sebagai ajang uji coba pada tahun ajaran 2013/2014, maka di tahun ajaran 2014/2015 semua sekolah harus suah menerapkan kurikulum baru tersebut yang disebut-sebut merupakan salah satu terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Mendengar kata "terobosan" menimbulkan rasa keingintahuan saya mengenai bentuk dan aplikasi dari kurikulum baru ini. Dari sekilas diskusi dengan sekolah, saya mendengar bahwa yang menjadi inti dari kurikulum baru tersebut adalah mengintegrasikan setiap mata pelajaran yang menjadi standar kompetensi minimum siswa pada level tertentu dengan benang merah suatu tema dengan mengaplikasikan beragam metode pengajaran secara komprehensif. Pihak perancang kurikulum menyebutnya "pola pengajaran tematik" atau sederhananya bisa kita sebut, pola pengajaran berdasarkan tema tertentu. Tema yang diusung diambil dari kehidupan sehari-hari siswa, dan tiap mata pelajaran yang diajarkan pada tiap kali pertemuan dengan siswa mengusung satu tema yang telah ditetapkan sesuai silabus tertentu. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus Kurikulum 2013 dapat dilihat dan diunduh disini.

Misalkan saja, untuk pertemuan pertama dengan siswa, setiap mata pelajaran mengusung tema tentang "Pengalaman Yang Mengesankan", maka materi dari masing-masing mata pelajaran akan didasarkan pada tema tersebut. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, Siswa diajak untuk menceritakan kembali pengalaman yang mengesankan secara lisan dalam bentuk aktivitas bercerita. 

Pada prinsipnya, beragam metode bisa diaplikasikan dalam mengeksplorasi tema ini. Guru dapat merancang aktivitas semacam "show and tell" atau presentasi tunggal dari masing-masing siswa dalam rangka menceritakan pengalamannya, atau mungkin juga aktivitas bermain peran secara berkelompok yang dilakukan siswa yang ceritanya diangkat dari pengalaman mengesankan mereka secara bersama-sama. Diantaranya disisipkan pengajaran mengenai konsep-konsep dasar tertentu yang menjadi standar kompetensi yang ingin dicapai dalam suatu mata pelajaran. Misalnya, dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah mengembangkan rasa ingin tahu dan mencari sumber-sumber informasi yang menunjang proses belajarnya. Maka, dalam hal ini, Guru bisa saja mengembangkan metode diskusi interaktif dengan siswa di kelas untuk mencari tahu serta mendorong siswa berperan aktif mengungkapkan pengetahuannya seputar pencarian sumber-sumber informasi tadi. Setelah itu, Guru juga dapat melengkapi apa yang sudah disampaikan siswa dengan menambah pengetahuan baru seputar materi yang dibahas.

Penggunaan beragam metode pengajaran secara aplikatif menuntut kreatifitas guru. Semakin kreatif guru dalam memadu madankan metode-metode pengajaran tersebut secara integratif, seharusnya akan semakin aktif dan dinamis aktivitas belajar para siswa. 

Tidak ada salahnya, sebagai orang tua kita mulai mencermati dan turut mempelajari perbedaan visi dan misi serta aplikasi yang diusung oleh kurikulum baru ini. Bagaimanapun, tanggung jawab pendidikan anak-anak berada ditangan orang tuanya, sehingga bagi kita yang memilih jalur sekolah sebagai pendukung pola pengajaran di rumah, sudah sewajarnya memahami rancangan kurikulum yang diterapkan oleh Pemerintah. Jika terdapat kekurangan atau ketidakselarasan dengan visi dan misi pendidikan keluarga secara internal, kita sebagai orang tua dapat merancang cara lain untuk menyesuaikannya, sebaliknya tentu saja, sebagaimana semua bentuk ciptaan manusia di dunia, mungkin kita juga memperoleh nilai tambah yang lebih baik dari kurikulum ini untuk mendukung pola pengajaran yang selama ini kita terapkan di rumah-rumah kita.


Senin, 14 April 2014

Sex Education For Young Children : How to start?

Sama seperti kebanyakan orang tua lain, saya termasuk yang perlu berpikir keras menemukan cara mengangkat tema pendidikan sex bagi anak-anak. Termasuk didalamnya, memilih-milih waktu yang tepat untuk mulai membiacarakannya.

Dari berbagai literatur yang saya baca dan pembicaraan dengan sesama ibu, saya memilih satu cara memulai dan masih terus saya gunakan sampai sekarang. Cara yang bagaimanakah itu? Hmm, saya menyebutnya cara yang "natural".

Setiap hari sebenarnya selalu ada saja momen yang bisa kita pakai untuk mulai membicarakan masalah sex dan sexualitas pada anak-anak. Ambillah contoh, saat ayah dan bunda dan anak-anak berada di satu ruang keluarga, di hari keluarga. Kesempatan ini jadi saat yang paling sempurna untuk membuka pembicaraan tentang pendidikan sex bagi anak-anak usia dini.

Momen lainnya misalnya saat kita mengajak anak-anak mengunjungi tante yang sedang mengandung, atau baru saja melahirkan bayi. Kita menjadikan momen itu untuk memulai pembicaraan tentang sex dengan si usia dini. Intinya adalah, sediakan waktu berbicara, siapkan suasana yang santai dan ambillah "inisiatif " untuk memulai diskusi tentang sex dengan anak-anak. Buka pikiran dan yakinkan diri terlebih dahulu, bahwa sebaik-baiknya pendidikan adalah yang diberikan dan dimulai dari orang tua, bukan dari yang lain, termasuk didalamnya pendidikan tentang sex. Bukankah kita yang lebih memahami anak-anak kita sendiri? Maka selayaknya kita yang memulainya.

Kamis, 03 April 2014

Main-Main Matematika : Mengenal Statistika Sederhana

Seusai acara iseng kami memanggang cup cake pisang di sore hari, kami masih menyisakan beberapa lembar wadah cup cake dari kertas yang berwarna-warni, ada ungu, biru, kuning dan merah. Dan..jadilah acara main-main matematika di dapur saya berakhir pada pengenalan teori statistika sederhana, begini ceritanya.. :)

Saya ajak putri saya yang kedua (7 th) untuk menyortir dan mengelompokkan wadah cup cake tersebut berdasar warnanya. Selain itu, ia harus memberi nomor pada setiap alas wadah cup cake, berurutan, hingga setelah usai, ia mengetahui berapa jumlah wadah cup cake pada masing-masing kelompok warna. Kemudian, ia saya minta untuk menempelkan wadah-wadah cup cake kertas itu di atas sehelai kertas folio, tentu saja sesuai dengan kelompok warnanya. Hasilnya terlihat seperti ini :

Berdasarkan susunan wadah cup cake seperti pada gambar di atas, saya ajak putri saya untuk mengobservasi  bersama serta memintanya menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti:
  1. berapa jumlah total semua wadah cup cake kertas yang ada?
  2.  kelompok warna apa yang memiliki jumlah paling sedikit?
  3. kelompok warna apa yang memiliki jumlah paling banyak?
  4. dst.
Dengan hanya memperhatikan sekilas hasil prakaryanya, putri saya dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya pun kemudian melanjutkan dengan mengenalkannya pada bentuk diagram batang (histogram) yang bentuknya mirip dengan prakarya dari wadah cup cake kertas ini. 

gambar diunduh dari : http://cdn.ttgtmedia.com/

Dengan cara sederhana ini saya sudah berhasil mengenalkan konsep  populasi (total semua wadah cup cake kertas), konsep pengelompokkan data (penyortiran per kelompok warna), dan salah satu bentuk penyajian hasil pengelompokkan data yang dikenal dalam ilmu statistika dalam waktu yang singkat dan dengan cara yang disukai anak-anak.

Jadi, siapa bilang, belajar matematika itu "wajib" serius dan menegangkan?..:p..dari dapur pun kita bisa melakukannya.


Selasa, 01 April 2014

Bagaimana Membangun Kedekatan Emosional Dengan Si Batita?

Sekali waktu saya pernah membaca di salah satu site tentang perkembangan anak (http://www.scholastic.com), "Babies who are securely attached to you emotionally will be able to invest more life energy in the pleasures of exploration, learning, and discovery

Kurang lebih, bila diterjemahkan secara bebas, kalimat tersebut dapat berbunyi, " Bayi yang merasa aman terikat dengan orang tuanya secara emosional akan menginvestasikan lebih banyak energinya pada kesenangannya bereksplorasi, belajar dan menemukan (hal-hal baru).  

 menggambar bersama si kecil? beri mereka contoh dan rasakan serunya saat melihat dia berusaha meniru gambar kita , meski sebatas corat coret saja..:)
Kalimat ini sangat menginspirasi saya, yang meskipun telah tiga kali mengasuh anak usia bayi-batita, namun masih tetap merasa ada yang kurang, manakala ketika anak-anak beranjak besar, saya menemukan terkadang mereka merasa kurang antusias dalam menjalani proses belajar dan bereksplorasi. Saya sering merasa, jangan-jangan kondisi tersebut merupakan buah pengasuhan saya yang kurang maksimal. Untuk itu, hingga sekarang saya masih berusaha mempelajari cara terbaik membangun kedekatan emosional dengan anak-anak (terutama si bungsu yang saat ini masih berusia dibawah tiga tahun).
Berikut beberapa contoh cara yang dapat kita coba terapkan dalam keseharian sebagai seorang ibu dalam menjalin hubungan dengan anak-anak:

Mengusahakan percakapan yang bermakna
Pada setiap kesempatan  bersama anak-anak, upayakan suatu percakapan yang bermakna. Bisa dikemas dengan ringan dan santai, namun isi percakapan harus benar-benar hal yang difokuskan dibicarakan dengan mereka. Jangan sekedar menyapa sambil lalu tanpa menaruh perhatian penuh pada anak-anak, karena mereka akan merasakan bahwa orang tuanya sedang tidak memberikan perhatiannya pada mereka namun pada hal lain. Mengobrol sambil tetap "bermain gadget" misalnya, akan membuat anak menarik kesimpulan bahwa kita tak serius ingin bercakap-cakap dengan mereka.

Jangan abaikan keluhan anak
Respon dari orang tua disaat yang tepat adalah yang diharapkan anak-anak, manakala mereka menghadapi ketidaknyamanan. Jangan lupa untuk selalu fokus pada penyelesaian masalahnya, dan yang terpenting lagi adalah menjaga kesabaran saat menghadapi anak-anak yang sedang menghadapi kesulitan.

Menyediakan waktu bermain bersama
Momen bermain bersama merupakan hal yang menyenangkan dan melegakan bukan saja bagi anak-anak namun juga bagi orang tua. Lepaskan segala hal diluar kegiatan bermain, maka kita akan bisa turut merasakan kegembiraan tulus yang dirasakan oleh anak-anak saat bermain. Tempatkan diri sebagaimana kita semasa anak-anak dulu, maka jalinan emosi antara kita dan anak-anak akan terbentuk layaknya "teman bermain" :).

Jangan pelit  memberi belaian sayang atau pelukan hangat
Salah satu bentuk komunikasi non verbal yang mudah dilakukan adalah memberi belaian atau pelukan hangat pada anak-anak. Tak harus menunggu momen tertentu untuk melakukannya. Anak-anak menyukai spontanitas. Lakukan saja sesuai kata hati kita, niscaya mereka akan suka dan merasakan kehangatan kasih sayang orang tuanya, dan bukan mustahil akan tertular melakukan kebiasaan yang sama hingga mereka dewasa pada orang-orang yang mereka sayangi.

Bernyanyi bersama
Tak harus jago menyanyi, kita bisa menyanyikan lagu-lagu kesukaan anak-anak bersama mereka. Diwaktu senggang, misalnya di akhir pekan, saya terbiasa mengajak anak-anak bermain musik bersama. kami emmilih daftar lagu bersama, dan terkadang membahas isi liriknya. Meski dengan alat musik seadanya, tapi momen spesial kami ini terbukti mendekatkan hubungan Ibu-Anak.

Memasak bersama atau menyediakan menu spesial
Kesempatan mencoba-coba resep makanan atau minuman baru akan jadi saat yang menyenangkan bila dijalani bersama anak-anak. Anak-anak akan merasa istimewa saat kita berusaha memenuhi apa yang mereka sukai.

Yang terpenting dari semua hal yang kita lakukan bersama anak-anak adalah untuk selalu menunjukkan kebahagian dan perhatian pada mereka. Biarkan bahasa tubuh kita, pancaran mata kita, respon kita terhadap ucapan dan keluhannya, senyuman dan tindakan kita sehari-hari sungguh-sungguh mencerminkan cinta tak bersyarat kita pada anak-anak. Jadi, tetaplah terus berusaha  menjalin hubungan spesial dengan anak-anak, berapapun usia mereka :)

*diintisarikan dari berbagai sumber