Sabtu, 25 Juli 2020

Our QIF Journal : Obat Stress Murah Meriah

Masa di rumah aja sudah lewat empat bulan sekarang ini. Di awal masa PSBB dulu, macam-macam gaya sudah dicoba anak-anak selama pantang beraktivitas jauh di luar rumah. Mulai dari lomba jalan jinjit dari ruang tamu ke kamar tidur lalu ke dapur, main lempar bola di teras muka hingga garasi, bersih-bersih kotak mainan sampai susun ulang lemari baju, sampai menggambar mural di kamar tidur atau sekedar nge-jam bareng kakak adik ayah bunda dengan alat musik seadanya di ruang tengah. Rasanya suasana serupa liburan tak habis-habis ๐Ÿ˜.

Dari ruang tamu mundur ke ruang tengah lama-lama mundur pula hingga ke dapur. Maka bertebaranlah tester ala-ala buatan anak-anak. Di mulai dari mug chocolate cake, pisang cokelat, pisang goreng keju, macaroni cheese, mi bangka hingga lasagna semua dicoba penuh suka cita,dimasak sendiri, dicoba sendiri di puji sendiri hihi.Bundanya sih senang-senang saja, selama tak terdengar keluhan "bosan" dan kelihatan gesture mati gaya,maka damailah hati bunda๐Ÿ˜‰. Intinya sih, apa aja deh, selama hati anak senang, hati bunda harus legawa. Ruang tamu tak rapi, ruang tengah penuh crafting materials atau dapur berantakan seharian??? Think twice lah kalo mau ngomel-ngomel. Selain omelan bunda bisa jadi perusak suasana, dipikir-pikir kan emang gak ada gunanya dan buang-buang energi negatif aja. Mending ikutan aktivitas anak-anak,dengan niat refreshing dan menyalurkan energi. Syukur-syukur ketemu resep andalan trus malah bisa berujung jualan online,lumayan buat hiburan dimasa banyak di rumah seperti sekarang. Hati senang, tambah ilmu dan jauh dari stress.

Btw, resep-resep ala-ala anak-anak bakal tayang juga nanti disini (sabar ya๐Ÿ˜‰) , sementara spoileran dulu aja. Dilanjut lah ceria di rumah nya ya๐Ÿ˜Š. Salam sabar dan semangat.

Kamis, 28 Mei 2020

Our QIF Journal : Kiat Sukses SFH & WFH

Sebagai seorang ibu yang juga bekerja di luar rumah, yang di masa pandemik covid 19 ini di"wajibkan" untuk bekerja dari rumah a.k.a work from home (WFH), di awal masa rasanya bagaikan menerima kiriman hampers Iebaran disaat di rumah tak ada makanan  :), happy banget. Maklum, selama menjalani masa kerja hampir dua puluh satu tahun, saat-saat tinggal di rumah hanya terbatas sejumlah cuti tahunan yang dijatah dari kantor, yang jumlahnya tak lebih dari dua belas hari saja. Jadi, ketika keluar pengumuman terkait PSBB di DKI Jakarta dan Jawa Barat, yang sama-sama menerapkan kebijakan PSBB untuk jangka waktu satu bulan (dan akan dievaluasi bertahap dan akan diperpanjang sesuai kebutuhan), saya langsung membayangkan indahnya tinggal di rumah selama itu.

Seminggu pertama layaknya bulan madu, tinggal di rumah saja, berkumpul dengan suami dan anak-anak 24/7 rasanya sungguh menyenangkan. Di minggu-minggu awal, baik kantor maupun sekolah anak-anak juga baru masuk tahapan adaptasi, kantor saya dan suami baru menyusun mekanisme dan jadwal kerja pegawai selama WFH, termasuk jadwal piket terbatas bagi sebagian pegawai, demikian juga sekolah anak-anak yang baru uji coba metode pembelajaran baru via media daring. Bisa dibilang, aktivitas saya dan anak-anak belum stabil menunggu kebijakan bertahap dari kantor dan sekolah, alhasil pekan pertama rasanya bak liburan keluarga, stay cation idaman, yang rutinitasnya banyak diisi dengan hal-hal menyenangkan, selain tentu saja, rutinitas bebersih seantero rumah pagi dan sore. saya misalnya jadi kembali punya waktu menulis atau mencoba resep masakan favorit bersama, sementara itu pak suami jadi rajin belajar menyeduh kopi ala barista,   si sulung jadi makin punya kesempatan membuat sketsa, adiknya yang hobi menggambar komik digital juga demikian atau si bungsu yang suka menyusun lego teknik, ikut-ikutan mengeluarkan koleksi mainan bongkar pasangnya itu.

Memasuki pekan kedua, suasana di rumah mulai berubah. Anak-anak mulai menghadapi serbuan tugas sekolah dari para guru. Target penyelesaian harian pun ditetapkan dan para guru yang tampaknya terkena sindrom "kejar setoran target penyelesaian bahan ajar", jadi lebih peduli pada target setoran tugas dari siswa-siwanya. Alhasil, sedikit banyak anak-anak yang di awal masa pandemik sudah merasakan perbedaann suasana, bertambah tekanannya dengan banjir tugas dari sekolah. Fenomena school from home (SFH) ini tidak hanya berdampak pada anak-anak dan para guru, melainkan juga pada para orang tua, terutama para Ibu yang harus putar otak, atur waktu antara pendampingan belajar anak-anak, pekerjaan kantor plus pekerjaan rumah.

Manajemen Waktu, Kunci Sukses WFH dan SFH
Di rumah, saya masih bisa bersyukur, karena anak yang harus saya dampingi proses belajarnya hanya si bungsu karena kedua kakaknya sudah biasa belajar mandiri. Terbayang jika ketiga anak saya masih perlu pendampingan. Aktivitas pendampingan belajar anak ini serta merta merubah jadwal harian saya. Mau tidak mau saya harus menyusun ulang urutan pekerjaan harian. Bangun pagi di pkl. 3.30, langsung menyambi urusan dapur dan bebersih rumah, setelah menjalani ibadah sholat shubuh segera menyiapkan makanan untuk sarapan sekeluarga, syukur2 jika menunya juga fit untuk makan siang, lumayan mengirit waktu masak siang hari. Masak murah meriah dengan resep - resep sederhana dan mudah tentunya  :). Pukul 7.30 bersiap absen pagi di kantor via aplikasi daring plus mulai menyiapkan bahan belajar si bungsu yang dipatok menyetor hasil belajar harian ke wali kelasnya setiap pukul 10 pagi. 

WFH saya dimulai pukul 8 pagi, jadi ada waktu kurang lebih setengah jam untuk membaca bersama, untungnya dia masih kelas 2 SD, jadi proses transfer konsep-konsep dasar logika dan bahasa lebih mudah dan materinya saat ini terkait tema-tema harian (tematik) sehingga tidak perlu waktu panjang untuk memahaminya. Usai mereviu singkat materi belajar anak, saya bersiap menuntaskan tugas harian dari kantor. Sebisa mungkin pengaturan waktu kerja selama WFH saya atur layaknya saat bekerja di kantor. Mulai jam 8 pagi, break istirahat, sholat dan makan siang pukul 12.00 s.d. 12.45 dan lanjut bekerja hingga pukul 16.00. Waktu istirahat siang hari bisa dimanfaatkan untuk menyiapkan makan siang bersama keluarga. Selama waktu kerja, saya bisa menyambi menjalankan tugas sebagai guru private anak-anak. Biasanya di kantor terkadang saya bisa membahas satu dua hal dengan teman-teman seruangan, nah saat kerja di rumah, diskusi sejenis bisa diaktifkan pada sebagian waktu, namun partner diskusi saya adalah anak-anak. Sesekali mengecek tulisan tangan si bungsu, sesekali bertukar soal quiz dengan si anak tengah atau sesekali menengok proyek harian si sulung di kamarnya. Usai waktu WFH, saya biasa memanfaatkannya untuk menjalankan tugas rumah seperti merapikan dan membersihkan rumah dengan dibantu anak-anak serta menyiapkan makan malam. Malam seusai ibadah Isya, saya dan keluarga biasa makan malam bersama diselingi dengan obrolan tentang apa yang telah dilakukan masing-masing dari kami di hari itu.

Dengan pola ini kami bertahan beraktifitas di rumah saja 24 jam setiap pekan. Mulai matahari terbit hingga menjelang malam latihan komunikasi efektif antar anggota keluarga terus berlangsung. Hasilnya? dua pekan sejak dimulainya masa WFH dan SFH, saya dan keluarga telah terbiasa menjalani jadwal aktifitas harian dengan pola seperti ini. Anak-anak tak lagi terbatasi proses belajarnya karena bisa tetap merasakan dinamika belajar yang menyenangkan ditambah interaksi natural antar anggota keluarga. Bonding antar kami jauh lebih kuat terasa. Serius, waktu sepekan bakal berlalu tanpa terasa :).

Manfaatkan Gawai Secara Positif
Saya sesekali juga mendiskusikan masalah efektivitas belajar dirumah secara daring dengan anak-anak. Sejauh ini tidak ada keberatan dari mereka dan justru mereka merasakan waktu belajar menjadi lebih padat manfaat. Si sulung yang menduduki kelas XII telah selesai semua proses Ujian Sekolah tepat sebelum masa di rumah saja di mulai. Selama masa di rumah, ia berkesempatan berlatih soal-soal perispan menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang menjadi syarat masuk ke universitas. Si anak tengah belajar secara daring dengan memanfaatkan aplikasi google room, sementara dari sekolah si bungsu, penyampaian materi belajar dilakukan para guru via whassapp goup orang tua siswa,, sementara . Mau pelaksanaan quiz atau ulangan harian menggunakan applikasi kazoot. Untuk menunjang cara-cara  belajar baru ini,  interaksi antara manusia selaku pengguna dan perangkat teknologi sebagai sarana belajar menjadi keniscayaan.

pemanfaatan gawai secara bijak bisa menjadi penentu suksesnya SFH dan WFH
credit photo : private collection
Bersyukurlah apabila di rumah telah tersedia perangkat gawai dengan jumlah yang cukup serta sambungan internet yang memadai untuk menunjang program WFH dan SFH. Bagaimana jika tidak tersedia hal-hal tersebut secara memada untuk diamnfaatkan oleh masing-masing anggota keluargai? Tentu saja masalah ini harus dicarikan solusinya. Salah satu solusi yang paling masuk akal adalah lagi-lagi dengan mengatur waktu pemakaian gawai dan menyiasati konsumsi sambungan internet yan dimanfaatkan secara bersama. Pengaturan waktu bisa diurutkan berdasarkan prioritas pemakainya. MIsalnya, bila hanya ada 1 PC atau laptop di rumah, sementara anggota keluarga yang hendak memanfaatkannya ada 5 orang, maka dalam satu hari masing-masing anggota keluarga terlebih dahulu harus menyepakati kepentingan siapa yang dinilai paling urgent dan kapan ia dapat menggunakan gawai yang tersedia. ontohnya, ayah harus rapat daring pada pukul 8-10 pagi, adik harus laporan secara lisan pada guru  mata pelajaran tertentu, yang apabila waktunya tidak diatur ketat, maka memungkinkan adik menggunakan gawai yang sama di luar waktu rapat ayah, dan seterusnya.

Selanjutnya, selain gawai menjadi barang yang penting dalam proses belajar dan bekerja di rumah, perlu juga dipahami bersama, bahwa interaksi yang intens dengan gawai mempunyai efek samping yang tidak selalu baik.Anak-anak mungkin akan pelan-pelan timbul asa ketergantungannya pada gawai, sehingga bisa jadi dimasa bebas pandemi pun akan sulit bagi orang tua untuk memisahkan mereka dari gawai nya. Oleh karena itu perlu kesadaran orang tua untuk memantau penggunaan gawai oleh anak-anak ini. Selain pengaturan waktu pemakaian gawai, kreatifitas orang tua menciptakan aktifitas lain yang tidak melibatkan gawai menjadi salah satu penentu yang dapat mengurangi efek negatif pemakaian gawai oleh anak-anak. Tak lupa, orang tua juga tetap wajib memberi contoh perilaku pemanfaatan gawai secara terkendali dan bertanggung jawab. Bukankah tak ada cara berbagi secara efektif dengan anak-anak selain memberinya contoh positif?



Jumat, 08 Mei 2020

Our QIF Journal: Tantangan Seru Sekolah Dari Rumah

Hello, masa pandemi covid-19 tiba-tiba saja mengubah pola hidup kita. Kaget? pastinya. Meskipun banyak orang dengan karakter "selalu waspada", gelombang perubahan yang datang tiba-tiba tetap butuh waktu untuk diterima. Tak terkecuali saya. Sebagai seorang ibu bekerja, konsentrasi saya benar-benar terpecah antara  masalah ketahanan sistem imun keluarga, urusan pekerjaan dan tentu saja perubahan pola belajar anak-anak yang mendadak "dirumahkan" untuk jangka waktu yang belum ditentukan mengikuti kebijakan pemerintah sepanjang masa pandemi.

Bagi keluarga-keluarga yang selama ini memilih pendidikan formal di sekolah bagi anak-anaknya, diawal mula masa anak-anak bersekolah di rumah, kesulitan yang umum terjadi adalah penyesuaian ritme kegiatan anak-anak. Jika tadinya sebagian besar waktu belajar anak dilakukan di sekolah, sekarang seluruh aktivitas tersebut berpindah ke rumah. Terus terang bagi saya pribadi, momen sekolah di rumah ini menimbulkan dilema tersendiri. Saya mahfum sekali jika terdapat perbedaan pola belajar anak-anak di sekolah dengan cara belajar mereka di rumah. Ada juga kekhawatiran saya, jika mereka lama belajar di rumah maka ketertarikan mereka akan sekolah akan berkurang :D.

Pada tahun 2011-2012, sewaktu saya dan anak-anak berpindah tempat tinggal mengikuti suami yang menjalani tugas belajar di Australia, saya belajar menerapkan prinsip-prinsip belajar di rumah bagi anak-anak (homeschooling). Pendekatan yang saya coba terapkan saat itu lebih ke fun learning, lebih pada mendampingi anak-anak menemukan cara belajar yang nyaman bagi mereka  sementara materi yang dipelajari saya membebaskan, selama itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan ajara agama dan norma umum. Sejak itu anak-anak di rumah terbiasa belajar meski dengan cara yang berbeda-beda, antara kakak dan adik bisa saja menemukan cara nyamannya sendiri dalam belajar.

Ketika kami kembali ke Indonesia,anak-anak kembali belajar di sekolah formal. Perbedaan cara belajar yang dikenalkan oleh para guru di sekolah  sedikit banyak mempengaruhi cara belajar mereka. Yang semula fokus pada "kesenangan belajar" menjadi belajar dengan target penuntasan materi, baik itu menyenangkan bagi mereka atau tidak :). Untunglah pak suami masih sepakat dengan saya, bahwa soal belajar lebih layak dimulai dengan kenyamanan anak-anak bagaimana mereka menikmati rposes belajar tersebut, jika mereka menikmati prosesnya, ketuntasan materi menjadi bonusnya. Jadi, bagi kami, ketuntasan target materi pembelajaran bukan prioritas utama. Saya bersyukur, dengan cara belajar mereka yang khas, anak-anak tetap bisa mengikuti ritme belajar di sekolah, meski tidak selalu menjadi bagian dari barisan anak-anak juara kelas, yang pasti satu dua materi benar-benar mereka pelajari dengan sukarela. Selebihnya? memenuhi ketuntasan materi minimal sudah cukup buat saya :D.

Tujuan kami dalam mengirim anak-anak belajar di sekolah formal memang bukan semata untuk mengejar materi pembelajaran sesuai kurikulum yang ditetapkan melainkan lebih mengenalkan kepada anak-anak pada realitas kehidupan yang sebenarnya yang dihadirkan lewat keberagaman latar belakang, sikap, etos kerja orang-orang lain yang berada bersama mereka di sekolah. Kami berharap dengan mengirim anak-anak ke sekolah mereka bisa mempelajari berbagai macam karakter orang, bagaimana berkomunikasi yang efektif, dan belajar mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hubungan inter personal dengan orang lain di luar lingkungan keluarga. Bagaimanapun sekolah merupakan salah satu lingkungan yang bisa menjadi laboratorium kehidupan nyata yang kaya akan heteroginitas dan menjadi sumber pembelajaran yang diperlukan anak-anak menjelang kehidupan mereka yang sebenarnya.

Credit Photo : Koleksi Pribadi


Kembali ke masa kini, ditengah pandemi ini, anak-anak kembali belajar di rumah sepenuhnya. Reaksi mereka sedari awal di rumahkan benar-benar menyenangkan, seperti mendapat berkah kembali beroleh kemerdekaan belajar ala rumah. Dua kakak yang masing-masing duduk di kelas XII dan kelas VIII sudah punya gaya belajar sendiri, sehingga saya tak perlu banyak khawatir soal bagaimana mereka akan menyelesaikan tugas sekolah sembari mengeksplorasi materi pembelajaran mandiri sesuai minatnya. Meskipun demikian  saya  tetap mengingatkan mereka dari hari kehari bahwa meskipun mereka akan setiap hari belajar dirumah, sekolah tetap memberi materi ajar yang wajib dituntaskan dengan tenggat waktu tertentu. Hmm, tantangan ini sebenarnya bukan cuma untuk anak-anak, justru lebih jadi tantangan buat bundanya :D.

Salah satu tantangan terseru saya adalah dalam mendampingi si bungsu yang sekarang duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Pada pekan pertama masa belajar di rumah, baik para guru maupun siswa dan juga orang tua. Setiap pagi, guru wali kelas akan membagi materi pelajaran yang wajib dituntaskan pada hari itu. Khusus untuk materi Tematik yang berisi muatan Bahasa Indonesia, Matematika, PPKn dan SBdP (Seni Budaya dan Prakarya) wajib diselesaikan sebelum pukul 10.00 pagi dan dilaporkan pada wali kelas.Sementara tugas dari bapak/ibu guru lainnya yang berbeda bidang studi seperti muatan agama Islam (diniyah), bahasa alternatif (Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Sunda) serta pelajaran olah raga juga turutmenyjmbangkan tugas-tugasnya. Total ada 6 mata pelajaran berbeda dengan muatan tugas dengan target penyelesaian mingguan.

Pekan pertama layaknya masa orientasi siswa baru. Anak-anak yang masih terkaget-kaget karena perubahan pola belajar, berhadapan dengan kewajiban penyelesaian target belajar yang ketat. Si bungsu kelihatan kurang bersemangat menyelesaikan tugasnya, setiap pagi yang ada dipikirannya campur aduk antara hafalan cara mencuci tangan 20 detik seperti yang ramai diiklankan di televisi, kecemasan soal virus yang tak kasat mata yang terlihat dimatanya setiap kali mendengar berita atau obrolan keluarga, rasa kangen pada teman-teman sekelasnya dan tugas dari bu guru :).

Perjuangan saya dan si bungsu setiap pagi dimulai dari pembiasaan akan suasana belajar yang baru dan bersama-sama menyimak materi pelajaran dari sekolah yang harus dipelajari di rumah dan sedapat mungkin tidak melenceng jauh dari target waktu penyelesaian harian. Hasilnya? waw, di pekan awal, hampir selalu si bungsu terlambat menyetorkan tugasnya pada bu guru :D. 

Saya kerap mengingatkan diri sendiri untuk tidak terbawa suasana kejar target. Saya meyakini bahwa belajar adalah hak anak-anak, dan dalam memperoleh hak tersebut mereka juga berhak menikmati proses yang menyenangkan dan bukan penuh tekanan. Saya sendiri tak berani menambah tekanan pada anak-anak yang saya tahu juga mendadak merasakan stress meski tak selalu dapat mereka ungkapkan. Namun demikian, saya juga berusaha tak menyerah menjalankan tugas penuh pendampingan belajar pada anak-anak. Bagaimanapun  karena kami telah memilih jalur sekolah formil sebagai tempat anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu belajarnya, maka dalam konsep memenuhi hak belajar anak-anak berarti juga memenuhi target pembelajaran sekolahnya. 

Selama ini, sebagian tugas saya sebagai pendidik anak-anak telah saya alihkan ke institusi bernama "sekolah" dan sekarang giliran saya kembali menikmati penuh tugas mendidik anak-anak di rumah. Masih bersyukur saya, karena sekolah tetap berbagi beragam materi yang dapat ditawarkan pada anak-anak untuk dipelajari. Paling tidak, proses penyusunan kurikulum belajar tidak harus sepenuhnya saya lakukan sendiri seperti masa-masa homeschooling dulu. Yang saya bisa lakukan sementara adalah memadukan kebijaksanaan belajar di rumah dengan pola belajar sekolah. kenyataannya, sungguh tak mudah hingga si bungsu mampu mengambil peran belajar mandiri sesuai jadwal pelajaran dari sekolah. Jargon penyemangat "pantang menyerah" tampaknya jadi kata-kata ajaib yang wajib di suarakan bagi ibu-ibu se-Indonesia yang sedang beralih tugas menjadi "bu guru" di rumah :). Bagaimanapun tugas mendidik anak-anak adalah hak prerogatif orang tua. Peran kita mutlak didalamnya.






Kamis, 07 Mei 2020

Our QIF Journal : Big BANG - Ada Apa Dengan Di Rumah Saja?


Photo by CDC on Unsplash


Tak berbeda dengan banyak negara lain di dunia, Indonesia juga tak luput dari hantu Covid-19. Meski terkesan terlambat mengantisipasi gelombang serangan virus yang tak kasat mata ini, akhirnya Indonesia menyadari gerakan #dirumah saja jadi salah satu cara menghambat laju penularan sang virus. Jadilah semenjak awal Maret tepatnya di 16 Maret 2020, kami resmi "dirumahkan". 

Ayah, Bunda mulai berkantor di rumah sejak minggu ketiga Maret, sementara anak-anak sudah lebih dulu belajar di rumah seminggu sebelumnya. Rumah kecil kami mendadak hangat dan meriah. Adek membuka spot belajar di sudut kanan  ruang tamu, bersama bunda di sudut kirinya. Dua kakak lebih nyaman bersarang masing-masing di kamar tidur, sementara ayah membuka ruang konferensi di ruang tengah yang menyatu dengan pojok kopi dan dapur. 

Aktivitas sehari-hari di dalam rumah membuat keramaian tersendiri yang tak biasa dan tak pernah terjadi sebelumnya. Suara adek yang menyimak materi belajar via TVRI berpadu dengan suara ayah yang bertelekonferensi dengan sejawatnya, ditingkahi suara musik dari kamar kakak yang tetiba seringkali menyentuh pianonya kembali sejak momen belajar di rumah saja. Kakak kedua dan bunda yang lebih sering bekerja dengan laptop menyerap semua riuh rendah suara dari dalam ruang-ruang di rumah kami, sungguh keramaian yang tak biasa dan reaksi kami di awal mula dimulainya kebiasaan baru ini berbeda-beda.

Dua kakak senang luar biasa ketika kebijakan  belajar di rumah saja dimulai. Bagi dua anak introvert itu, kesempatan belajar dalam "sarang" nya yang nyaman di rumah sepanjang hari  adalah hal yang sellau dirindukan. Beda dengan kakak, adek yang extrovert sedikit nelangsa karena tiba-tiba tak bisa bersosialisasi seperti biasa, kangen ibu bapak guru dan kangen bermain bersama teman-teman jadi salah satu alasan pertamanya merasa tak betah di rumah. 

Bagaimana dengan  ayah dan bunda? Ayah yang biasa gesit dan padat dengan agenda kerjanya sedikit kerepotan karena semenjak berkantor di rumah, efektivitas pelaksanana tugas sangat tergantung pada kelancaran jaringan telekomunikasi. Banyak rapat yang terkendala jaringan yang hilang timbul di hari-hari awal kebijakan di rumah saja, yang akibatnya  untu menyiasati kondisi tersebut terpaksa beberapa agenda dilaksanakan di luar jam kerja normal. Alhasil, momen bekerja di rumah saja berjalan ibarat tak kenal waktu. Ada rapat-rapat yang berjalan bahkan hingga dini hari. Tak beda dengan ayah, bunda pun demikian, meski tidak terlalu terpaku pada aktivitas komunikasi, bunda lebih terkendala masalah pengaturan fokus diri, membagi konsentrasi antara pekerjaan dan kewajiban mendampingi anak-anak di masa belajar di rumah. Malum sepanjang masa belajar di rumah, anak-anak tetap dilimpahi beragam tugas sekolah dengan tenggat waktu yang sama ketatnya layaknya mereka yang dipatok target pekerjaan.

Stres?
Ow, terus terang, pekan pertama adalah puncaknya. Setiap orang berusaha dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan mendadak ini. Belum lagi setiap hari masih harus membaca atau mendengar berita seputar Covid-19 yang baru mulai merebak dan mau tak mau menyita perhatian. Lazimnya berita buruk, ketakutan, kekhawatiran dan ketidakpastian menghantui masing-masing dari kami. Masih beruntung kami bisa bersama-sama di masa sulit ini. Rasa syukur inilah yang menguatkan kami. Di luar sana banyak keluarga tak seberuntung kami. Sebagian terpisah jauh, jarak dan waktu. Sebagian amat terbatas ruang geraknya karena keterbatasan fasilitas dan banyak lagi hal yang tak kami alami.

Tekad di akhir pekan pertama kami adalah bersyukur dan mulai belajar lagi. Banyak hal yang masih harus kami pelajari, belajar berempati, belajar menyesuaikan diri, belajar mengembangkan diri ditengah keterbatasan, belajar mengelola keterbatasan itu sendiri dan banyak hal lainnya. Bismillah, kami optimis bisa belajar bersama.


Kamis, 16 Mei 2019

Tips Buat Orang Tua Dalam Mendampingi Anak-Anak Berkegiatan Selama Ramadhan

Alhamdulillah, bulan suci Ramadhan tahun ini telah tiba. Suka cita, kami kaum muslimin menyambutnya, karena seperti dijanjikan oleh Alloh SWT, di bulan ini berlimpah ruah rahmahNya, semisal bonus bagi siapa pun hamba-hambaNya yang berbuat kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain serta semesta.

Bagi bunda dan ayah, sudah pasti lebih seru dan berkesan manakala aktifitas ibadah Ramadhan kita juga termasuk mendampingi anak-anak di rumah menjalani latihan ibadahnya baik berpuasa maupun belajar menjalankan amalan lainnya.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat menjadi panduan kita dalam beraktifitas Ramadhan bersama putra-putri tercinta.

Kenalkan Anak Pada Sang Pencipta

Sebagai pengantar, ayah dan bunda dapat memulai dengan mengenalkan Allah SWT dengan cara mengajak mengamati mengamati alam serta membuat daftar nikmat yang telah diberikanNya kepada kita mulai dari sehatnya diri, bermanfaatnya panca indera, berkah berada dalam keluarga, kemampuan memahami pelajaran di sekolah dan lain sebagainya.

Pengenalan Iman 

Mengenalkan anak-anak kepada Allah SWT layak dilanjutkan dengan pengenalan mengenai iman. Jika anak-anak telah diperlihatkan bukti-bukti kebesaran dan ciptaanNya, sedikit demi sedikit anak dapat merasakan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan keseharian. Langkah awal ini jika tak putus kita lakukan, akan membimbing anak pada pengenalan akan iman. Pengenalan awal mengenai keimanan haruslah membuat anak belajar mencintai Penciptanya.

Agar mudah menanamkan pemahaman bahwa Allah SWT menyayangi hambaNya, ayah dan bunda dapat menunjukkan lebih banyak contoh nyata seperti betapa Allah SWT menjamin rejeki tiap makhluk di dunia ini. Contoh-contoh sederhana seperti "bahkan anak burung yang belum dapat terbangpun dijamin rejekinya, yaitu dia dapat memperoleh makanan lewat induknya," atau "jika kita berusaha , seperti misalnya para pedagang di pasar atau petani yang rajin merawat tanamannya, maka pastilah Allah SWT akan memberinya rejeki yang cukup berupa keuntungan yang berkah atau hasil panen yang baik,"

Beri gambaran pada anak-anak bahwa Allah SWT menyukai tiap kebaikan yang dilakukan oleh hambaNya. Misalnya, " Kalau pada burung kecil saja Allah begitu sayangnya, apalagi pada anak-anak sholih dan sholihah yang rajib berpuasa,"

Di tahapan awal, hindari menggunakan ancaman untuk mengajak anak melakukan suatu ibadah, seperti menakuti bahwa Allah SWT akan menghukum mereka yang tidak berpuasa. Isalam itu agama yang baik dan memudahkan ummatnya menjalani ibadah-ibadahnya, sehingga mulailah mengenalkan Islam dengan kebaikan dan kemudahan yang disediakannya.


Tunjukkan Kasih Sayang

Sebagai orang tua, kita wajib menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak. Bukankah akan menjadi hal yang ironis, manakala kita berusaha mengenalkan anak-anak pada kasih sayang Allah SWT, namun dihadapan anak kita justru tidak menunjukkan kasih sayang yang tulus pada mereka. Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang tidak menyayangi, niscaya dia tidak akan di sayangi.” (HR. Muslim)

Menjadi Teladan Yang Baik
Sebaik-baiknya pendidikan adalah teladan yang baik. Dalam mendampingi anak-anak menjalani ibadah Ramadhan, kita hendaknya menunjukkan semangat menyambut kehadiran bulan mulia ini. Tunjukkan kepada anak-anak, bahwa kita amat menantikan bulan Ramadhan dan tak sabar ingin menjalani ibadah-ibadah utama di bulan Ramadhan sesuai yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw.

Jika ingin anak-anak semangat bertarawih, maka kita harus terlebih dulu menunjukkan pada mereka semangat bertarawih, demikian pula dengan ibadah lainnya semisal menggiatkan membaca Al Quran, berbagi dengan dhuafa, menyiapkan menu berbuka untuk jamaah di masjid dekat rumah, menahan amarah dan sebagainya.


Dalam mengajarkan ibadah kepada anak, hindari memberitahukan imbalan kepada anak di awal. Seperti “kalau adek puasanya full, nanti ayah kasih tas sekolah baru!”.
Sebaiknya, berikan imbalan di akhir tanpa memberitahukannya. Kemudian saat orang tua memberikan apresiasi melalui hadiah, tekankan juga bahwa hadiah tersebut adalah rezeki dari Allah Swt

Dalam membiasakan anak beribadah, orang tua perlu bersabar. Karenanya mengajarkan ibadah perlu dilakukan sejak dini agar proses pendidikan dapat dilakukan secara bertahap. Allah Swt berfirman: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132). Bersabar menjalani proses merupakan pembelajaran bersama bagi orang tua dan anak-anak. Semoga kita tetap istiqomah menularkan kebiasaan baik pada anak-anak.

--- ooo ---

Jumat, 23 Oktober 2015

Internet dan Remaja : Aturan Wajib Bagi Remaja Dalam Berinternet

Teknologi terus berkembang dari waktu ke waktu. Salah satu penemuan yang tak bisa disangkal lagi telah merubah cara manusia hidup di dunia adalah internet.



Tak cuma bagi para pengguna dewasa, keajaiban internet telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan anak-anak kita, mulai dari batita, balita, hingga remaja.


Untuk mereka yang termasuk golongan terakhir a.k.a para remaja, internet bahkan tampaknya menjadi item yang lebih penting dibandingkan kebutuhan dasar manusia ala Maslow yang membatasinya dalam kelompok pangan, sandang dan papan.

Tidak percaya???
Coba saja, saat anda ajak mereka ke restoran cepat saji, misalnya, yang menjadi perhatian mereka bukan hanya (atau bahkan "bukan pada") menu yang disajikan resto tersebut melainkan apakah jaringan wifi tersedia disana.
credit image : http://i1-news.softpedia-static.com/images/

Tak jarang si remaja uring-uringan dan mati gaya hanya karena sambungan internet di rumah terkena gangguan beberapa jam di saat mereka menghabiskan waktu di rumah. Gadget dan internet bagai dua sejoli yang kemana-mana menemani remaja kita menghabiskan waktunya mulai dari mengerjakan rumah, menyiapkan presentasi, ngobrol dengan sesama teman sekolah atau anggota komunitas favorit, hingga acara 'membunuh' waktu dengan sekadar menyaksikan video dari artis idola atau bermain game online.


Sebenarnya seperti apapun di dunia ini, teknologi berbasis internet juga mempunyai dua sisi, yang menguntungkan dan tentu saja merugikan.

Di satu sisi, internet  merupakan ladang informasi yang jika dipilah dengan filter yang tepat dan digunakan dengan bertanggung jawab maka akan menyediakan banyak hal positif yang memperluas khasanah pengetahuan bagi remaja dan mempermudah mereka dalam mengeksplorasi hal-hal baru dalam aktifitas belajarnya. 

Sebaliknya, jika remaja kita tak cukup punya bekal mengenai tata cara berinternet yang benar dan bertanggung jawab hal-hal negatif bisa saja menjadi konsumsi mereka baik  sengaja  ataupun tak sengaja.

Berikut beberapa aturan dasar yang wajib dipahami dan dipraktikan remaja kita dalam berinternet ria:

Waspada terhadap orang asing
Sama dengan aturan umum dalam dunia nyata, dalam dunia maya pun remaja kita perlu memahami bahwa berhubungan dengan orang yang asing bagi mereka memiliki risiko tinggi terhadap keselamatannya.

Sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mendiskusikannya dengan remaja kita akan bahayanya berhubungan dengan orang asing secara online  dan terus menerus mengingatkan remaja kita  untuk berhati-hati pada apa yang tampak di dunia maya. Banyak ketidakjujuran terpapar disana. Berdiskusilah dengan mereka mengenai hal ini, bahwa apa yang ditampilkan dan dikatakan orang asing di dunia maya bisa sangat jauh berbeda dengan kenyataannya di dunia nyata.

Jangan pernah berbagi informasi pribadi

Ingatkan remaja kita untuk berhati-hati selalu. Pencantuman alamat rumah, sekolah atau nomor telepon dan nomor kartu atm/kartu kredit di laman sosial media haram hukumnya. Termasuk diantaranya posting foto-foto pribadi apalagi dengan pose-pose yang bisa menarik atau memancing perhatian orang asing.

Jaga kerahasiaan password akun pribadi di dunia maya


Jelaskan pada remaja kita bahwa password didesain sebagai kunci pengaman informasi dalam akun pribadi. Jika tidak ingin informasi dalam akun tersebut tersebar luas keluar, maka jangan pernah emmbagi password tersebut pada orang lain (sahabat, teman atau bahkan teman dekat).


Ajak remaja kita berbagi aplikasi, tools atau situs yang sering ia kunjungi


Agak sulit mungkin, karena sebagai remaja mereka mulai mengerti batasan privasi. Namun, dengan komunikasi asertif, orang tua tetap dapat memperoleh akses tersebut sekadar untuk menjaga agar tidak terjadi kemungkinan remaja kita mengunjungi situs yang salah atau terlalu banyak menghabiskan waktunya di dunia maya.

Orang tua dapat menggunakan konsol pengaman berupa filter dalam bentuk software yang dapat mengamankan remaja kita saat berselancar di dunia maya. Konsol ini berguna untuk mencegah pihak yang tidak bertanggung jawab masuk dalam aktivitas remaja kita di dunia maya, misalnya saja para predator anak ataupun menyaring konten-konten dewasa yang kerap muncul layaknya iklan di laman situs.

Selain itu, sudah selayaknya remaja kita memperoleh contoh  cara aman berinternet dari orang tuanya. Dengan cara ini, kita sebagai orang tua membantu membentuk kebiasaan baik pada mereka, yaitu menjadi netter yang bertanggung jawab.




Sabtu, 07 Februari 2015

Saat Balita Kita Rajin Bicara : Kiat Menghadapi Anak Talkactive

Apakah ada diantara anda yang mempunyai anak talkactive? Beberapa cirinya mungkin bisa ditemukan dalam tulisan ini
Dari semua artikel yang saya baca tentang cara menghadapi dan memahami anak talkactive saya temukan satu kata yang penting untuk terus saya ingat, yaitu : SABAR. 

Intinya, menghadapi anak yang sangat aktif berbicara, jangan sampai orang tua menjadi tidak sabaran yang malah akan membuat kita kehilangan kesempatan membantunya mempelajari cara belajar dengan lebih baik. 

Hal penting lainnya yang perlu diingat bagi saya adalah bahwa anak  talkactive cenderung suka berusaha menarik perhatian orang-oang disekitarnya. Saat kita sedang melakukan suatu kesibukan, biasanya ia akan mendekati dan mulai menanyakan hal-hal yang diminatinya atau meminta kita melakukan sesuatu untuknya.

Dari sebuah artikel yang saya baca di http://www.healthguidance.org saya menemukan hal-hal menarik berikut yang layak saya praktikan dalam menghadapi si kecil yang talkactive.

  1. Dengan anak yang talkactive sangat penting bagi kita untuk tetap mendengarkannya dengan penuh perhatian dan memberinya komentar atau jawaban yang ia inginkan. Hanya dengan cara ini kita bisa tetap dapat membantu anak untuk belajar memahami apa yang benar dan salah.
  2. Jangan mudah menyerah saat mengajari anak talkactive tentang kapan ia harus diam dan kapan ia harus berbicara, sebab anak-anak yang sangat suka berbicara seringkali tidak dapat menahan dirinya untuk tidak berbicara barang sejenak.
  3. Jika kita memang ingin membantu anak talkactive untuk belajar tenang dan diam, kita dapat mengajaknya datang ke tempat-tempat dimana ia diharuskan untuk diam, misalnya ke tempat ibadah atau perpustakaan. Mulailah mengajaknya untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama misalnya satu jam, untuk memberinya pengalaman bahwa ada tempat-tempat yang memang mengharuskannya untuk tidak berbicara banyak.
  4. Latihlah anak untuk diam di tengah waktunya di rumah dengan menyediakan waktu "diam" untuk seluruh anggota keluarga. Kita bisa meminta seluruh orang di rumah untuk diam selama lima belas menit, misalnya, dan kemudian di waktu-waktu berikutnya, durasi itu bisa kita tambah sedikit demi sedikit untuk memberi kesempatan bagi anak talkactive belajar mengendalikan keinginannya untuk berbicara. Namun, jangan lupa untuk tetap merespon dengan cara positif, manakala si kecil tetap berbicara, ingatkan dia bahwa tujuannya belajar diam adalah untuk kebaikan bersama.
  5. Anak talkactive biasanya penuh dengan energi dan jika kita mengarahkannya dengan benar, maka kita bisa membantunya mempelajari hal-hal baru. Ajak sikecil untuk mengerjakan prakarya, beri ia tugas-tugas ringan yang dapat mengembangkan kesenangan atau hobi baru, misalnya memintanya membuat lukisan dengan tangan dengan media kertas dan cat air, atau bermain-main dengan air dan gelas-gelas plastik dan sebagainya.
  6. Bagi si talkactive yang masih berusia balita, biasanya ia sangat suka membuat ceritanya sendiri. Kebiasannya ini bisa diarahkan untuk mengajaknya belajar menikmati bacaan baru. Mengajaknya banyak membaca membuka kesempatan baginya untuk mendapatkan cerita-cerita baru untuk diulang dan positifnya lagi, kita telah membantunya menumbuhkan minat membaca sejak dini.
Apapun cara yang kita tempuh dalam berusha memahami dan membantu anak talkactive dalam mengembangkan dirinya, yang terpenting adalah kita menyadari bahwa anak, melalui kesukaannya berbicara sebenarnya menginginkan perhatian dari kita, sebagai orang tuanya. Tindakan pengabaian terhadap anak seperti ini bukan tidak mungkin bukan hanya menghentikannya dari kebiasaannya berbicara banyak namun juga menghentikannya dari membangun kedekatan dengan orang tuanya.

Jadi satu kata terpenting yang tetap harus dijaga adalah bersabar untuk memperoleh lebih banyak kebaikan bagi semua.